Label

Tampilkan postingan dengan label 3.Product. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3.Product. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Oktober 2010

Produk gagal

7 Kriteria Tentang Produk Gagal

Ketika para internet marketing indonesia berniat untuk meluncurkan suatu produk, tentunya tak ada yang mengelak kalau harapannya hanya satu: penjualan meledak dan laku keras. Kalau bisa sepanjang waktu penjualannya terus meningkat dan meningkat. Sampai menjadi penghasilan pasif yang terus mengalir sepanjang waktu.
Sayangnya tak semua produk yang di luncurkan oleh teman2 internet marketing indonesia mengalami nasib seperti itu. Ada yang tak begitu laris, lalu perlahan menghilang bahkan sebelum dikenal pasar secara luas. Mengapa bisa begitu?
Berikut catatan kecil saya tentang produk yang tidak mampu bertahan di pasar:
  • Iklan tidak efektif. Iklan yang salah sasaran hampir bisa dipastikan menjadi promo yang tak efektif. Sebab, itu seperti menawarkan produk kepada orang yang tak membutuhkan.
  • Positioning produk tidak tepat. Salah pilih posisi untuk positioning produk anda serta berbagai alat promosinya seperti blog misalnya, bisa berakibat fatal untuk bisnis anda.
  • Tidak didesain baik. Bagi pemilik produk, cover produk yang baik dapat meningkatkan daya tarik produk. Sebaliknya bila kurang baik, bisa membuat ketertarikan pengunjung pun berkurang. Mengenai cover, bisa dilihat di blognya Mas Agung.
  • Harapan pasar terlampau tinggi. Produknya mungkin bagus. Namun pasar menginginkan lebih dari yang ada. Pasar menaruh harapan yang terlampau tinggi terhadap produk tersebut sehingga ketika harapan pasar tak mampu dipenuhi, pasar menjadi kecewa.
  • Kurang ide dan biaya. Mungkin bisa karena ide pengembangan yang kurang atau biaya pengembangan produk yang terlampau mahal. Dalam pengembangan sebuah produk, tanpa kesiapan kedua hal tadi bisa memperpendek usia produk. Biaya pengembangan meliputi biaya riset dan analisis produk lanjutan.
  • Persaingan terlampau keras. Masuk ke dalam niche yang sudah begitu padat yang diisi para pebisnis internet besar, namun tanpa dibarengi kesiapan yang cukup, bisa membuat produk anda sulit berkembang. Untuk mengantisipasinya, baca Tips Bertahan Dan Memenangkan Persaingan Di Bisnis Internet di blog Mas Zams dan di sini.
  • Perubahan arah teknologi. Bila produk anda berhubungan dengan teknologi yang berkembang cepat, anda harus awas memperhatikannya. Bila tidak, produk anda akan cepat kadaluarsa.
Ketujuh penyebab di atas hanya sekedar catatan kecil saya terhadap penyebab produk yang belum diterima pasar. Sama sekali bukan bermaksud untuk membuat anda berpikir ulang atau menghentikan langkah anda untuk ACTION. Tetap lanjutkan langkah anda dan mulai rintis bisnis internet dan jadilah internet marketing indonesia yang hebat.

http://www.caksub.com/7-kriteria-tentang-produk-gagal/

Minggu, 10 Oktober 2010

PRODUK UNILEVER PALING DISUKAI KONSUMEN INDONESIA.

PRODUK UNILEVER PALING DISUKAI KONSUMEN INDONESIA.

Tanggal : 10-10-2008, Kategori : Berita Utama, Ekonomi & Bisnis

Laporan : H.Erry Budianto
Jakarta-Surabayawebs.com
Majalah Swa bekerjasama dengan Frontier Indonesia, menganugerahi penghargaan Indonesian Customer Satisfaction Award Index (ICSA Index) 2008 kepada 11 brand PT.Unilever Indonesia Tbk.
Produk-produk Unilever yang memperoleh penghargaan tersebut antara lain SariWangi (kategori the celup), Blue Band (kategori margarine) Buavita (kategori minuman sari buah) siap minum, Pond’s (kategori pelembab wajah), Lifebuoy (kategori sabum mandi padat), Vaseline (kategori hand & body lotion), Rexona (kategori deodorant), Clear (kategori shampoo), Pedsodent (kategori pasta gigi), Sunlight (kategfori sabum cuci piring) dan Molto (kategori pewangi dan pelembab pakaian).
“Penghargaan ini memiliki arti penting bagi Unilever karena merupakan salah satu parameter untuk menilai seberapa jauh kepercayaan dan kedekatan masyarakat terhadap produk-produk Unilever<’ ujar Head of Corporate Communication PT.Unilever Indonesia Tbk Maria Dewantini Dwianto dalam siaran pers yang diterima Surabayawebs.com di Jakarta kemarin.
Menurut dia, dengan diberikannya penghargaan itu membuktikan kedekatan Unilever bersama produk-produknya di hati masyarakat di tanah air. Katanya, sebagai perusahaan yang telah eksis sejak 75 tahun lalu di Indonesia, tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Indonesia. “Kami merasa bahagia sekali dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat di seluruh pelosok Nusantara,” jelasnya kemudian.
Penghargaan ICSA Index 2008 itu merupakan parameter kinerja perusahaan Unilever buah kepercayaan masyarakat terhadap produk-produk Unilever. “Moment ini juga kami harapkan menjadi motivator bagi karyawan untuk terus melakukan inovasi, solusi, kreativitas, aktivitas produk dan terus membangun citra produk agar hubungan erat dapat terjalin baik dengan konsumen.
ICSA Index adalah survey kepuasan pelanggan yang mencakup semnua bidang industri. Baik manufaktur maupun jasa. Hasil survey ini diharapkan bisa menggambarkan secara nyata wajah kepuasan pelanggan di tanah air.
Majalah SWA dan Frontier menggelar surver ini merupakan tahun yang ke sepuluh. Survei pertama 1999. Sejak itu tiap tahun SWA rutin mempublikasikan ICSA Index. Survei dilakukan di 6 kota besar di Indonesia. Yaitu Makasar, Medan, Surabaya, Semarang, Bandung dan Jakarta.
Sebanyak sebelas produk Unilever yang kembali berhasil meraih penghargaan ICSA Index 2008 berdasarkan pengukuran lima parameter. Yaitu nilai akhir kepuasan pelanggan (total satisfaction score/TSS), kepuasan terhadap produk/pelayanan (quality satisfaction score/QSS), kepuasan terhadap harga berdasarkan kualitas yang diterima (value satisfaction score/VSS), persepsi tingkat kebaikan dari merk yang digunakan secara keseluruhan (kualitas produk/layanan, harga dan fakktor lain) dibandingkan dengan merk-merk lainnya (Perceived Best Score/PBS) dan Ekspektasi terhadap merk (Expectation Score/ES).


http://surabayawebs.com/index.php/2008/10/10/produk-unilever-paling-disukai-konsumen-indonesia/

Srategi Pemasaran Produk

Strategi Memasarkan Produk

Pemasaran adalah strategi atau cara bagaimana melakukan berbagai aktifitas agar terjadi pertukaran (exchange) antara produsen dengan konsumen. Dalam hal pendidikan, pemasaran mengatur strategi dan cara agar konsumen mau mengeluarkan uang yang mereka miliki untuk menggunakan produk atau jasa perusahaan.

Untuk bisa memasarkan produk dengan baik, harus dimulai dari visi, misi, dan tujuan yang jelas perusahaan ingin diarahkan ke mana. Visi, misi dan tujuan ini biasanya harus dimulai dari manajemen, yang kemudian ditransfer kepada karyawan.
Selanjutnya, perusahaan juga harus menganalisis berbagai faktor eksternal yang mungkin berpengaruh dengan lembaganya. Faktor-faktor eksternal tersebut yang pertama adalah Lingkungan Makro. Lingkungan makro di sini terdiri dari sisi perkembangan penduduk dengan segala sifat dan karakternya. Faktor lain dari lingkungan makro adalah teknologi, di mana kita juga harus melihat berbagai perkembangan teknologi yang mungkin bisa diterapkan di perusahaan kita.

Faktor berikutnya dari lingkungan makro adalah aturan Pemerintah. Di Indonesia termasuk unik, karena aturan pemerintah sering berubah dengan perubahan menteri. Karena itu, antisipasi berbagai aturan ini diperlukan agar perusahaan bisa fleksible dalam mengadaptasi berbagai perubahan aturan.
Setelah lingkungan makro, lingkungan eksternal lain yang perlu diperhatikan adalah peta industri dan persaingan. Perusahaan perlu memetakan siapa pesaing-pesaing mereka, baik yang berpotensi untuk bersaing langsung maupun tidak langsung. Pemetaan kondisi ini akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan pesaing kita, sekaligus melihat aspek mana yang bisa dijadikan sebagai keunggulan bersaing.
Setelah melihat kondisi persaingan, perusahaan perlu memahami konsumen atau pelanggan. Pemahaman tentang konsumen, nilai-nilai yang mereka anut, dan nilai tambah seperti apa yang diinginkan mereka akan sangat membantu perusahaan dalam mendisain produk dan jasa yang dibutuhkan.

Untuk bisa memberikan nilai tambah, perusahaan harus terlebih dahulu mengetahui selera dan kebutuhan konsumen secara baik. Biasanya dilakukan survey ataupun wawancara dengan calon-calon konsumen mengenai apa harapan dan keinginan mereka tentang perusahaan.
Perusahaan biasanya kesulitan untuk menentukan apakah perusahaannya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas atau untuk menengah bawah. Perusahaan sejak awal harus menentukan lembaganya diarahkan untuk kelas mana.

Dengan menentukan target market yang dituju, perusahaan bisa memberikan satu nilai tambah yang menjadi pembeda dibandingkan dengan para pesaingnya. Nilai tambah inilah yang disebut sebagai differensiasi. Dengan differensiasi yang kuat, bisa menjadi senjata dalam menghadapi berbagai persaingan.

Setelah peta kondisi eksternal sudah didapatkan, perusahaan tinggal memikirkan kondisi internal strategi apa yang akan dilakukan untuk mengelola perusahaan. Pola pengelolaan strategi internal ini, dalam ilmu pemasaran sering disebut sebagai strategi 4 P yaitu mengelola produk, harga, saluran distribusi dan promosi (product, price, place of distrbution, promotion).
Produk-produk perusahaan bisa dibagi menjadi dua bagian; yaitu produk utama dan produk pendukung. Produk utama adalah kegiatan belajar mengajar dengan segala prosesnya. Karena bukan barang jadi, proses kegiatan belajar mengajar adalah produk utama yang melibatkan emosi dan perasaan dari peserta didik sebagai konsumen. Karena itu, agar produk utama ini baik harus diciptakan pengalaman belajar mengajar yang menyenangkan.
Perusahaan harus menentukan produk apa yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Survey kebutuhan pelanggan perlu dilakukan agar produk yang diberikan sesuai dengan pilihan mereka.

Setelah menentukan produk apa yang ingin ditawarkan, selanjutnya adalah menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh konsumen. Prinsip utama dalam menentukan harga adalah menghitung keseluruhan biaya yang diperlukan. Dari situ, tinggal ditambahkan berapa persen laba yang ingin diperoleh untuk kepentingan pengembangan dan penghitungan berapa tahun akan balik modal.

Dalam hal distribusi, perlu juga dipikirkan bagaimana produk yang kita buat akan sampai kepada konsumen. Perlu dipikirkan apakah produk kita jual secara langsung atau dipercayakan kepada distributor dan agen untuk penyebarannya. Yang penting adalah bagaimana produk tersebut bisa sampai ke tangan konsumen.

Salah satu faktor yang penting dalam pemasaran sebagai P yang terakhir dari 4P yaitu promosi. Promosi adalah usaha-usaha sadar untuk melakukan sosialisasi, penerangan, dan pemberitahuan kepada masyarakat tentang berbagai informasi, yang biasanya mengenai berbagai produk yang ditawarkan. Aktivitas promosi melibatkan berbagai bentuk dan variasi yang sangat beragam. Tinggal bagaimana para pengelola melakukan berbagai promosi kreatif sesuai dengan kebutuhan dan anggaran promosi yang disediakan.

Bentuk promosi yang paling tradisional adalah iklan. Iklan adalah pemasangan informasi produk di berbagai media dan penerbitan mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, dan juga radio. Iklan memang efektif menjangkau khalayak yang luas, tetapi dari sisi biaya memang membutuhkan anggaran yang besar. Jika terasa bahwa biaya iklan di media massa cukup besar, bisa dicoba bentuk lain yaitu dengan brosur, leaflet, dan juga spanduk yang dipasang di sekitar wilayah di mana konsumen berada. Dengan demikian, informasi lengkap tetap bisa didapatkan oleh target konsumen kita.

Cara lain yang efektif adalah melalui promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) di mana satu orang memberikan penjelasan kepada orang lain karena merasa mendapatkan manfaat yang baik dari produk atau jasa yang digunakan. Promosi ini sangat efektif karena biasanya orang lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh saudara ataupun teman-teman yang sudah merasakan terlebih dahulu.

Pada akhirnya, aktifitas promosi apapun dalam perusahaan tidak bisa berjalan efektif jika secara internal tidak memperhatikan faktor kualitas sebuah perusahaan. Dengan kualitas produk yang baik, ditambahkan komunikasi yang mengena, maka aktifitas perusahaan bisa berjalan dengan baik.


http://www.sentrakukm.com/index.php/artikel/73-strategi-memasarkan-produk

Â

Fungsi Produk

Fungsi Produk Kerajinan Seni Ukir Kayu Guwang Oleh: Ni Kadek Karuni Dosen PS Kriya Seni Feldman menjelaskan bahwa fungsi-fungsi seni yang sudah berlangsung sejak zaman dahulu adalah untuk memuaskan: (1) Kebutuhan-kebutuhan individu kita tentang ekspresi pribadi, (2) kebutuhan-kebutuhan sosial kita untuk keperluan display, perayaan dan komunikasi, serta (3) kebutuhan-kebutuhan fisik kita mengenai barang-barang dan bangunan yang bermanfaat (Feldman, 1991: 2). Lebih jauh, dalam pengertian luas, Feldman membagi fungsi seni menjadi tiga bagian, yaitu: Fungsi personal (personal function of art), fungsi sosial (the social function of art), dan fungsi fisik (physical function of art). Dalam fungsi sosial dari seni kerajinan masyarakat Bali pada hakekatnya senantiasa berkaitan erat dengan kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar memeluk Agama Hindu,  sehingga seni kerajinan merupakan hasil budaya yang berpangkal dari pandangan hidup masyarakat Bali yang dicerminkan oleh agama Hindu (Purnata 1976/1977:  31). Orientasi penciptaan seni kerajinan di samping untuk kebutuhan hidup manusia, juga banyak diperuntukan untuk kepentingan kepercayaan. Produk ini tidak hanya sebagai pelengkap dalam upacara, tetapi juga merupakan sarana dalam upacara itu sendiri. Dalam fungsinya produk seni kerajinan ini termasuk dalam kategori seni sakral. Seni sakral adalah sebuah produk seni yang lahirnya dari perjuangan rasa bakti manusia untuk dipersembahkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga dalam seni kerajinan ukir kayu. Terkait dengan produk seni kerajinan yang berfungsi sakral dalam perwujudannya merupakan simbol-simbol keagamaan Hindu. Karya ini sering disebut dengan Pretima, atau Prelingga yang merupakan personifikasi dan tempat bersemayamnya Dewa-Dewa. Karya ini berbentuk togog dewa-dewa yang terbuat dari kayu dan dilapisi sedikit emas murni, dan ada juga terbuat dari uang kepeng yang dirakit berbentuk dewa-dewi. Menurut tradisi masyarakat, arca adalah wujud dewa atau dewi yang jelas penggambarannya sebagai manusia atau binatang, sedangkan pretima adalah suatu benda yang secara alami tidak berbentuk manusia yang merupakan wujud atau sthana para dewa. Dalam proses ini,  kehidupan semesta dalam agama hindu memberi peluang penciptaan togog atau arca dalam beranekaragam manifestasinya. Perwujudan togog sebagai manifestasi dewa dewa, seperti togog Dewa Brahma, Wisnu, Ciwa, Saraswati adalah hanya beberapa contoh dari personifikasi dewa-dewa dalam agama hindu.   http://m.isi-dps.ac.id/fungsi-produk-kerajinan-seni-ukir-kayu-guwang

Produk Daur Ulang Kelapa Modal Minim

Produk Daur Ulang Kelapa
Modal Minim, Hasil Berlipat
 
JAKARTA – Banyak bidang usaha yang bisa dijadikan prospek bisnis. Tak usah melamun tinggi-tinggi jika ingin memulainya. Ambil contoh yang sederhana saja, mendaur ulang buah kelapa untuk dijadikan kerajinan. Ini hal yang amat sepele. Tapi bagi pengusaha kecil yang jeli, kelapa bisa menjadi mesin uang.
Ambil contoh, banyak pengusaha mikro di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang membuat kancing dari batok kelapa. Mereka tanpa keluar modal besar mengumpulkan bahan baku (tempurung) dari pasar-pasar dan petani kopra untuk dibuat kancing. Prosesnya mudah namun bernilai jual tinggi.
Di salah satu sudut Pasar Beringharjo, misalnya, terdapat sebuah toko grosir yang spesialis menjual kancing. Salah satu item yang sering dicari adalah kancing batok. Pembelinya kebanyakan pedagang dari seluruh Indonesia. Mereka membeli untuk diperdagangkan kembali. Ada pula pengusaha pakaian yang membutuhkan kancing untuk baju-baju yang berkesan etnik.
Toko tersebut ketika SH menanyakan pada penjaganya beberapa waktu lalu, mengatakan kancing-kancing itu diperoleh dari pengrajin di sekitar Yogyakarta. Warga asingpun sering membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa ke negerinya. Menurut penjaga itu, cukup banyak pembeli yang mengorder dalam jumlah ratusan kodi dalam berbagai ukuran untuk diekspor.
Batok kelapanya pun jika digarap dengan sedikit sentuhan seni, akan memiliki nilai tambah. Misalnya dibuat celengan, gelas seloki, dan sebagainya. Telah cukup banyak pengarin kecil yang bermain di batok untuk dibuat produk “antik.”. Untuk mendapatkan hasil yang unik, pengrajin memilih tempurung yang lebih kecil. Biasanya diambil dari jenis kelapa gading yang berbuah kecil.
“Kalau kerajinan yang memakai kelapa biasa (yang batoknya besar), itu sudah lama ada. Contohnya, gayung mandi atau centong (sendok nasi),” sebut Bambang di ujung telpon kepada SH, pekan lalu. Pemasok batok kelapa yang mukim di Yogyakarta, sekaligus juga pengusaha berbagai kerajinan itu menambahkan, untuk memperoleh tempurung kelapa yang kecil, agak sulit di pasar. Sebab kebanyakan buahnya jarang diperjualbelikan seperti halnya kelapa biasa. Jadi untuk mengumpulkan, dia berburu ke penduduk-penduduk yang memiliki kelapa gading.
Menurutnya, ada pengrajin di Jakarta yang menjadi pelanggan tetapnya. Sementara di kota-kota lain, sifatnya tidak tetap. Tiap bulan dia hanya memasok sekitar 500-700 batok ke berbagai kota dan mengaku sebagai satu-satunya pemasok batok kelapa yang memperoleh sampingan ajeg tiap bulan.

Kreatif
Kerajinan yang memanfaatkan buah kelapa sebagai bahan baku dan cukup terkenal adalah Bali. Di sana, para pengrajinnya kreatif dan panjang akal. Maka tak heran jika tercipta ukiran buah kelapa seperti wujud kepala orang atau kera. Produk ini cukup laris sebab turis yang mampir ke Pasar Seni, ada yang menenteng oleh-oleh kelapa berukir tersebut.
Yang unik, sewaktu SH baru-baru ini berkunjung ke Pekan Raya Jakarta 2004, ternyata produk serupa juga dibuat di Sulawesi Utara. Terus terang, daerah tersebut memang memiliki areal tanaman kelapa yang luas. Tetapi tiba-tiba ada produk ukiran - walau sederhana – takjup juga. Di stan Sulawesi Utara, produk kerajinan yang mirip Bali dipajang. Ada perbedaan yang mencolok dengan buatan Bali, yakni buah kelapa yang dipakai dari jenis kelapa kecil.
“Ya, ini buatan salah satu pengrajin di Sulawesi Utara,” ucap penjaga stan sembari menjelaskan bahwa motif ukiran kebanyakan berwujud kakek-kakek berwajah lucu dan seram. Menurutnya, produk ini setelah didaur ulang termasuk yang diburu turis asing karena bentuknya yang unik. Di stan tersebut, “kepala opa-opa” itu dijual Rp 20.000 per buah.
Bahannya adalah kelapa gabuk (yang gagal membesar) dan telah kering. Separuh bagian diukir menjadi wajah dengan semburat serat sabut, sebagai rambutnya. Separuhnya lagi dibiarkan utuh terbungkus sabut. Sayangnya, pengrajinnya tidak ikut ke Jakarta.
Masih banyak bagian dari kelapa yang bisa dimanfaatkan dan bisa menghasilkan uang. Misalnya dibuat menjadi perangkat makan terbuat dari batok. Yang ini, proses pembuatannya lebih sulit karena batok-batok tersebut dipecah-pecah kecil dan disusun kembali seperti membuat mozaik dengan perekat, sehingga menjadi lempengan. Barulah setelah ini dibentuk menjadi benda-benda tertentu, bahkan bisa dibuat lemari atau meja. Pelopornya semula pelaku bisnis mikro di Filipina yang kemudian diikuti Bali, yang juga telah sukses mengekspor ke mancanegara.
(SH/gatot irawan)
  



http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/0703/ukm3.html

Pengertian Produk

Produk 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari  Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.[1] Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.  Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".[2] Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").[3] Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith.[4]  Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.